Skip to main content

Arti Sebuah Kata vs Asumsi


Hari ini adalah hari Jumat yang berarti saya punya kelas rutin bersama professor pembimbing akademik saya dan teman-teman satu laboratorium. Hari ini adik kelas saya (dia masih bachelor degree) mempresentasikan tentang bagaimana ‘belief’ dari suatu produk akan mempengaruh loyalitas seorang pelanggan. Bahasan yang menarik karena menggabungkan disiplin psikologi dan juga marketing. Tapi yang membuat saya lebih tertarik lagi adalah ada teman saya orang Jepang bertanya kepada professor, “apakah belief menurut orang Jepang dan bagaimana menulis kanji nya”.

Ini menarik bukan karena dia tidak tahu apa artinya kata ‘belief’ tetapi untuk orang Jepang yang sangat detail terhadap bagaimana memberikan servis terhadap suatu produk, kata ‘belief’ bisa mempunyai beberapa arti dan artinya bias diindikasikan oleh karakter kanjinya. Saya sedikit kaget kenapa teman saya bertanya bagaimana cara menulisnya. Coba bayangkan seseorang yang berumur 24 tahun masih harus bertanya kepada gurunya bagaimana menulis suatu kata di dalam bahasa ibunya. Tetapi saya salut dengan dia karena dia mau bertanya suatu hal yang sangat simple dan dasar kepada orang yang lebih mengerti. Menurut saya, jika dia mengartikan ‘belief’ dengan asumsi dia yang mungkin bias saja salah, kesalahan ini akan berefek kepada pengertian yang salah pada bahasan selanjutnya. 

Hal ini membuat saya sadar, betapa sering sekali dalam hidup sehari-hari kita berasumsi terhadap sesuatu. Selain itu, diperparah dengan betapa malasnya kita bertanya orang yang lebih tau atau orang yang memberikan infomasi untuk mengkonfirmasi lebih detail apa maknanya. Banyak alasan kenapa orang lebih senang berasumsi. Ya yang pasti, alasan yang paling sering terjadi adalah lebih mudah untuk berasumsi darapida bertanya karena tidak keluar banyak tenaga dan komunikasi yang dilakukan hanya oleh dirinya dan pikirannya. Tetapi yang sering terjadi dan juga buruk adalah disaat orang merasa dirinya paling benar dan pintar sehingga ia merasa mampu untuk mempresentasikan semua makna dari apa yang didengar. Egoisme orang akan menjadi tinggi dan sulit untuk mendengarkan orang lain. 
Karena kita adalah mahluk sosial, komunikasi dengan orang lain dan juga untuk mampu mendengarkan orang lain adalah kebutuhan juga keharusan. Maka dari itu, lebih banyak bertanya disbanding berasumsi. 

Comments